Lompat ke konten utama

POLITEKNIK EL BAJO COMMODUS

Melestarikan Masa Lalu, Membangun Masa Depan: Pembelajaran dari Program Kang Cing Wie 2026

Penulis : Marius Yosef Seran & Dewi Sartika Umul

Program Kang Cing Wie 2026 bukan sekadar kegiatan pertukaran akademik dan budaya antara Indonesia dan Tiongkok. Melalui rangkaian simposium, kunjungan kelembagaan, kunjungan budaya, serta observasi perkembangan teknologi dan pembangunan ekosistem perkotaan modern di Beijing, program ini memberikan kesempatan kepada para peserta untuk memahami Tiongkok dari berbagai perspektif. Bagi saya, salah satu pembelajaran terpenting dari program ini adalah bagaimana Tiongkok mampu mempertahankan keterikatan yang kuat dengan sejarah dan warisan budayanya, serentak terus bergerak maju menuju dalam bidang ekonomi dan teknologi.

Selama mengikuti program, kunjungan ke berbagai situs sejarah dan budaya seperti Tembok Besar China, Kota Terlarang, kawasan Shichahai Hutong, dan Qianmen Dashilan memberikan gambaran nyata mengenai bagaimana peninggalan sejarah tetap menjadi bagian dari kehidupan perkotaan kontemporer. Tempat-tempat tersebut tidak hanya dilestarikan sebagai peninggalan masa lalu, tetapi juga terus berfungsi sebagai ruang budaya, sumber pendidikan, destinasi wisata, serta bagian penting dari identitas kota. Dengan demikian, pelestarian lingkungan dan warisan sejarah dapat berjalan berdampingan dengan perkembangan kota yang berlangsung sangat cepat.

Pada saat yang sama, kunjungan ke berbagai institusi dan pusat pengembangan teknologi turut memperlihatkan sisi lain dari Beijing. Paparan terhadap teknologi kendaraan otonom, kecerdasan buatan, serta berbagai perusahaan teknologi tinggi menunjukkan orientasi Tiongkok yang kuat terhadap masa depan. Kontras tersebut sangat menarik: bangunan bersejarah dan lanskap budaya dapat berdiri berdampingan dengan teknologi maju, infrastruktur modern, dan berbagai inisiatif pembangunan yang berorientasi pada masa depan. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa masa lalu dan masa depan tidak harus dipandang sebagai dua hal yang bertentangan. Sebaliknya, warisan budaya dapat menjadi bagian dari strategi pembangunan yang lebih luas.

Pengalaman ini sangat relevan bagi Indonesia, yang memiliki kekayaan sejarah dan budaya di berbagai daerah, tetapi pada saat yang sama menghadapi tantangan modernisasi dan perkembangan pariwisata. Oleh karena itu, persoalannya bukan semata-mata apakah warisan budaya harus dilestarikan atau pembangunan harus terus dilakukan. Pertanyaan yang lebih penting adalah bagaimana pembangunan dapat terus bergerak maju, tanpa harus memutus hubungan masyarakat dengan sejarah dan identitas budayanya.

Pertanyaan ini juga memiliki hubungan yang erat dengan penelitian saya mengenai Warloka Pesisir di Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Warloka memiliki nilai sejarah sebagai bagian dari dunia maritim di kawasan Indonesia Timur dan menyimpan bukti mengenai interaksi serta pertukaran budaya yang menghubungkan masyarakat lokal dengan jaringan regional yang lebih luas. Namun, warisan tersebut menghadapi tantangan untuk tetap memiliki makna dalam konteks perkembangan pariwisata dan pembangunan masyarakat saat ini.

Pengalaman di Tiongkok memberikan cara pandang yang berbeda terhadap tantangan tersebut. Pelestarian warisan budaya tidak selalu berarti mempertahankan suatu komunitas agar tetap berada di masa lalu. Sebaliknya, sejarah dan budaya dapat menjadi fondasi bagi pembangunan masa depan apabila didokumentasikan, ditafsirkan, dilindungi, dan dihubungkan dengan kebutuhan masyarakat kontemporer. Dalam perspektif ini, sejarah maritim Warloka tidak hanya dapat menjadi objek penelitian arkeologi, tetapi juga dapat dikembangkan sebagai sumber pembelajaran budaya, interpretasi wisata, pariwisata berbasis masyarakat, serta sarana pertukaran budaya antarbangsa.

Program Kang Cing Wie dengan demikian memberikan pembelajaran yang melampaui rangkaian kegiatan yang dilaksanakan. Pertukaran budaya tidak seharusnya hanya berfokus pada bagaimana kita mengenal sejarah dan budaya negara lain, tetapi juga mendorong peserta untuk merefleksikan warisan budaya mereka sendiri dan memikirkan bagaimana warisan tersebut dapat berkontribusi terhadap masa depan. Pengalaman Tiongkok menunjukkan bahwa kesinambungan budaya dapat berjalan bersama dengan inovasi teknologi dan pembangunan modern.

Dalam konteks kerja sama di masa mendatang, program seperti Kang Cing Wie dapat mendorong para peserta untuk menerjemahkan pertukaran budaya menjadi kolaborasi yang lebih nyata. Peserta dari Indonesia dan Tiongkok dapat bekerja sama dalam dokumentasi warisan budaya, proyek sejarah lisan, narasi digital, penelitian budaya komparatif, pameran, serta pengembangan inisiatif pariwisata berbasis masyarakat. Kegiatan-kegiatan tersebut dapat menjadikan warisan budaya sebagai ruang yang hidup untuk membangun dialog yang berkelanjutan, bukan sekadar sebagai objek pembahasan sejarah.

Pada akhirnya, salah satu pelajaran paling berharga dari Program Kang Cing Wie 2026 adalah bahwa melangkah menuju masa depan, tidak berarti harus meninggalkan masa lalu. Pembangunan akan menjadi lebih bermakna ketika tetap terhubung dengan sejarah, identitas, dan memori budaya masyarakat. Sebaliknya, pelestarian warisan budaya akan menjadi lebih berkelanjutan apabila warisan tersebut dapat memberikan manfaat bagi kehidupan masyarakat pada masa kini dan masa depan.

Bagi Warloka dan berbagai destinasi warisan budaya lainnya di Indonesia, pelajaran tersebut menjadi sangat penting. Tantangannya bukanlah memilih antara pelestarian dan pembangunan, tetapi menemukan cara agar warisan budaya dapat menjadi fondasi bagi pembangunan yang bertanggung jawab dan berorientasi pada masa depan. Dalam konteks ini, Program Kang Cing Wie tidak hanya dapat menjadi jembatan hubungan budaya antara Indonesia dan Tiongkok, tetapi juga menjadi katalisator untuk mengubah hubungan historis dan budaya tersebut menjadi aksi kolaboratif bagi masa depan.

Lihat lebih banyak tentang kami di Instagram